#under_header{ margin:10px 0; padding:1%; width:98%; }

Selasa, 03 Maret 2015

APP 2015 minggu II

POLA HIDUP SEHAT DAN BERKECUKUPAN

SUB TEMA 2 : MENJAGA KESEIMBANGAN HIDUP JASMANI DAN ROHANI
                            Manusia seutuhnya

Teks Alkitab : Mat 4: 1 – 11
  Mat 4:1 
Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.
  Mat 4:2 
Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
  Mat 4:3 
Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti."
  Mat 4:4 
Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
  Mat 4:5 
Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,
  Mat 4:6 
lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu."
  Mat 4:7 
Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"
  Mat 4:8 
Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
  Mat 4:9 
dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku."
  Mat 4:10 
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
  Mat 4:11 
Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.



Penjelasan Teks Alkitab :
1.    Yesus sendiri telah menderita karena pencobaan , turut merasakan kelemahan-kelemahan kita tetapi tidak berbuat dosa maka Ia dapat menolong kita yang dicobai dan hendaknya Ia menjadi teladan kita dalam menghadapi pencobaan (ayat 1)
2.    Pada pencobaan yang pertama (ayat 3-4) , Iblis mencobai Yesus dengan menunjukkan kemampuan-Nya untuk mengubah batu-batu menjadi roti untuk mengatasi kelaparan. Yesus mengutip Ul 8:3 dimana disana tertulis “ Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan”. Dengan berpegang pada firman Allah itu, Yesus berhasil mengatasi keinginan daging.
3.    Pada pencobaan kedua (ayat 5-7), Iblis mencobai Yesus untuk menggenapi Mzm 91:11-12 untuk orang-orang yang menjadikan Allah tempat perlindungan. Yesus menjawab dengan kutipan dari Ul 6:16 “Janganlah mencobai Tuhan, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa” (bdk Kel 17:1-7). Dengan berpedoman pada ayat ini, Yesus mengatasi godaan keangkuhan hidup.
4.     Untuk pencobaan ketiga (ayat 8-10), Iblis mencobai Yesus dengan menawarkan kekuasaan politik asal Ia mau menyembahnya. Yesus kembali mengutip Ul 6:13-15 bahwa manusia harus takut akan Allah dan kepada Dia sajalah kita harus menyembah. Dengan berpedoman pada ayat ini, Yesus berhasil mengatasi godaan mata.
5.    Keberhasilan Yesus mengatasi pencobaan Iblis ini merupakan teladan bagi kita para pengikut-Nya dalam mengatasi godaan-godaan yang kita hadapi. Dalam 1 Yoh 2:15-16 ditegaskan pada kita “ Janganlah kamu mengasihi dunia yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia”. Mengapa? Kitab suci sendiri menyediakan jawabannya di ayat selanjutnya.
6.    Setelah mengalahkan Iblis, malaikat datang melayani Yesus. Tetapi perlu kita ingat bahwa penginjil Lukas mengatakan bahwa sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur daripada-Nya dan menunggu waktu yang tepat (Luk 4:13). Kita hendaknya tetap berjaga-jaga dan berdoa karena Iblis berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang ditelannya (1 Ptr 5:8)

Pertanyaan Penuntun :
1.    Mengapa kita harus menjaga keseimbangan antara tubuh jasmani dan rohani?
2.    Bagaimana caranya kita memberi makan tubuh jasmani dan rohani?
3.    Apa pentingnya kita menjalankan puasa dan pantang?
4.    Apa yang bisa merusak kehidupan jasmani?
5.    Apa yang bisa merusak kehidupan rohani?
6.    Godaan apa saja yang bisa menjerumuskan manusia?
7.    Bagaimana kita mengatasi godaan dunia yang menjanjikan?

Catatan:
Dalam masa Prapaskah ini, selama 40 hari kita menjalankan masa puasa dan pantang. 40 hari ini dimulai ketika kita menerima abu pada hari Rabu Abu dan berakhir pada Sabtu Suci. 40 hari karena Yesus juga berpuasa selama 40 hari dan juga simbol pergumulan bangsa Israel melalui padang gurun menuju tanah terjanji selama 40 tahun.
Pantang dan puasa yang kita lakukan selama masa Prapaskah bukanlah tujuan melainkan sebagai suatu sarana yang membantu mencapai kehidupan yang lebih baik. Pantang dan puasa lebih menyangkut makan dan minum namun kita harus harus sadari bahwa manusia itu terdiri dari tubuh jasmani dan rohani. Makan dan minum lebih pada tubuh jasmani, raga, bagian kita yang paling kasar. Tanpa kita sadari bahwa ada tubuh rohani kita yang juga perlu diberi makan. Tubuh rohani merupakan manusia yang paling asli dan luhur dan diberi makan dengan cara berdoa, rajin ke gereja ikut perayaan Ekaristi, mencintai dan berkorban. Kita diharapkan, sepanjang hidup kita, bukan hanya memberi makan tubuh jasmani tetapi juga memberi makan tubuh rohani agar seimbang. Ketika kita salah memberi makan tubuh jasmani, dampaknya akan segera terasa dan kelihatan. Misalnya sakit perut dan diare. Namun ketika kita memberi makan rohani kita dengan hal-hal yang buruk (racun)  misalnya amarah, benci, dendam, korupsi, maka ia dengan perlahan-lahan menggerogoti jiwa kita tanpa kita sadari.
Pantang dan puasa yang kita lakukan kita lakukan, bukan sekedar apakah kita tidak makan atau minum tapi lebih pada bagaimana selama masa ini, kita berusaha mengendalikan keinginan daging dan mendahulukan kepentingan rohani. Sekali lagi, bahwa puasa dan pantang secara jasmani hanya merupakan masalah yang kesekian dan bukan yang utama.
Pada masa Prapaskah ini, kita mengenal pula APP (Aksi Puasa Pembangun) sebagai buah yang diharapkan dari puasa dan pantang. APP ini bukan menyangkut jumlah, tetapi kualitas “non multa sed multum”. Bukan merupakan penyisihan kelebihan dari penghasilan kita tapi hasil jerih payah memasuki masa puasa yang diperuntukkan untuk sesama, buka berhemat untuk diri sendiri.
Pada masa perjalanan di padang gurun, selama 40 tahun bangsa Israel bergumul bagaimana mereka melawan “ego dan sikap mempersalahkan orang lain dan Tuhan” dan masuk dalam Tanah Terjanji dengan Tabut Perjanjian. Yang dihasilkan disini adalah iman. Dan pada masa kita, kita diharapkan setelah masa Prapaskah, iman kita bertambah dan menghasilkan “penghematan” untuk sesama.
Tak dapat dipungkiri bahwa pada jaman sekarang, ada begitu banyak godaan-godaan yang menjerumuskan kita sehingga kita hanya mengejar kebutuhan jasmani saja. Godaan-godaan itu yaitu kekuasaan/pangkat, uang/materi, nama baik, kenikmatan dunia, kemalasan, kerakusan, kemarahan, nafsu dll.
Tapi apa gunanya kita memberi makan jasmani kita tapi tak memberi makan rohani kita? Bukankah kita setelah melalui peziarahan di bumi ini, jasmani kita akan kembali menjadi debu tanah dan rohani kita mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan? Kita sibuk mencari kebutuhan dunia kita dengan mengandalkan kekuatan dan pengertian kita sendiri. Siang malam kita bergumul dengan masalah-masalah dunia yang tak ada habisnya.
Dalam Mat 6: 31-34 dikatakan dengan jelas bagaimana kita tak perlu kuatir akan hari esok. “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Bukan berarti bahwa kita bermalas-malas dan semuanya akan datang pada kita. Tetapi kita diharapkan menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani dengan sebaik-baiknya.
Godaan-godaan yang diberikan dunia harus kita atasi dengan diskresi (pembedaan roh) dan dengan tegas (tidak mengadakan tawar menawar).

Kesimpulan:
Manusia bukan hidup dari roti saja tetapi dari setiap sabda Tuhan.

Dalam pendalaman iman tanggal 9 Maret 2015, seorang ibu mensharingkan cerita hidupnya. Katanya ia saat ini telah berumur 57 tahun. Tapi ketika membaca materi PI mengenai keseimbangan jasmani dan rohani, ia mulai menghitung-hitung apa saja yang ia telah lakukan selama ini. ketika ia menghitung, ia mengakui bahwa 1/3 dari hidupnya ia habiskan untuk tidur atau sekitar 8 jam sehari sehingga ia telah tidur selama 19 tahun.
Ia mulai menghitung lagi, dalam seminggu, ia ke gereja setiap hari minggu +/- selama 1,5 jam, berdoa setiap hari ya,,,, paling tidak 5 menit atau bahkan mungkin kurang, ikut doa lingkungan sekali seminggu setidaknya selama 1 jam itupun kalau ikut. Dan ia mulai menghitung bahwa dalam seminggu ia hanya menghabiskan waktu sekitar 3 jam dalam seminggu untuk melakukan aktifitas rohaninya. Artinya ia dalam seluruh hidupnya hanya 1 tahun melakukan kegiatan rohaninya, itupun kalau rutin ia lakukan. Lain lagi ketika ada begitu banyak halangan sehingga ia tidak melakukannya dalam seminggu entah itu karena sibuk bekerja, lupa, ada kegiatan yang yang dianggap "lebih penting" tentunya 1 tahun itu semakin tidak terpenuhi.
Apa yang ia lakukan dari 57 - 19 - 1 (37) tahun dalam hidupnya?
Dari sharingnya, ia mengatakan bahwa sebagian besar hidupnya ia gunakan untuk bekerja, mencari uang, menonton tv, bersosialisasi dengan orang lain, melakukan aktivitas yang lain. Lain cerita lagi ketika ia memberi halangan bagi dirinya untuk di akhirat kelak dengan menggosipkan orang lain, melakukan pekerjaan atau kegiatannya dengan bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain, lain lagi ketika ia mengharap pamrih di dunia untuk perbuatan baik yang ia lakukan untuk orang lain. 

Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita juga memiliki kehidupan yang tidak seimbang antara jasmani dan rohani? Paling tidak, kita masih diberi kesempatan untuk menyadari kekeliruan yang selama ini kita anggap biasa saja. Mungkin saja kita akan menyesali bahwa hidup kita, kita habiskan dengan hal-hal yang tidak berguna. Kita habiskan dengan hal-hal yang akan kita sesali nantinya.
Semoga kita diberi rahmat untuk membagi waktu kita lebih seimbang antara melakukan kegiatan jasmani dan untuk kebutuhan rohani kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar