#under_header{ margin:10px 0; padding:1%; width:98%; }

Senin, 18 Agustus 2014

LITURGI EKARISTI DAN PANDUAN PAWAI LILIN PADA HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA Paroki Makale

LITURGI EKARISTI DAN PANDUAN PAWAI LILIN
PADA HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
Jumat, 15 Agustus 2014 di Gereja Pusat Paroki Makale.

I.  RITUS PEMBUKA
1.      Lagu Pembuka:
Perarakan masuk: (Misdinar, Lektor, Pemazmur, doa umat, Pengarak Persembahan, dan Imam berarak bersama).

2.      Antifon Pembuka:
I     : Suatu tanda besar tampak di langit: seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya, dan mahkota dua belas bintang pada kepalanya.

3.      Tanda Salib dan Salam
I     : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U   :  Amin.
I     : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus bersamamu.
U   : Dan  bersama rohmu.

4.      Kata Pengantar:
Maria diangkat ke Surga merupakan ajaran Gereja. Konsili Vatikan II mengajarkan, “Akhirnya Perawan tak bernoda, yng tidak pernah tekena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di Surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG art.59). Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga memberikan kepada kita pengharapan besar, yaitu menggerakkan kita dengan teladan dan doa agar bertumbuh dalam rahmat Tuhan, agar berserah pada kehendakNya, dan mencari persatuan abadi dalam Kerajaan Surga.

Rabu, 13 Agustus 2014

memory of Toraja International Festival 2014 w/ them :D

Peringatan hari ke .... orang yang sudah meninggal dalam iman katolik

Gereja katolik merayakan peringatan orang kudus sebagai hari raya (day of obligaton) pada tanggal 1 November yang ditetapkan pada jaman Paus Gregorius IV pada tahun 835.
Sehari setelah hari perayaan orang kudus disebut hari arwah (all souls day) yaitu hari yang ditetapkan untuk mengenang dan mempersembahkan doa- doa atas nama semua orang beriman yang telah wafat. Mengingat makna antara keduanya demikian dekat, maka tak mengherankan bahwa Gereja merayakannya secara  berurutan. Setelah kita merayakan hari para orang kudus, kita mendoakan para saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, dengan harapan agar merekapun dapat bergabung dengan para orang kudus di surga.
Umat Kristiani telah berdoa bagi para saudara/ saudari mereka yang telah wafat sejak masa awal agama Kristen. Liturgi- liturgi awal dan teks tulisan di katakomba membuktikan adanya doa- doa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Mendoakan jiwa orang- orang yang sudah meninggal telah tercatat dalam 2 Makabe 12:41-42. Di dalam kitab Perjanjian Baru tercatat bahwa St. Paulus berdoa bagi kawannya Onesiforus  (lih. 2 Tim 1:18) yang telah meninggal dunia. Para Bapa Gereja, yaitu Tertullian dan St. Cyprian juga mengajarkan praktek mendoakan jiwa- jiwa orang yang sudah meninggal. Hal ini menunjukkan bahwa jemaat Kristen perdana percaya bahwa doa- doa mereka dapat memberikan efek positif kepada jiwa- jiwa yang telah wafat tersebut. Berhubungan dengan praktek ini adalah ajaran tentang Api Penyucian. Kitab Perjanjian Baru secara implisit mengajarkan adanya masa pemurnian yang dialami umat beriman setelah kematian.  Yesus mengajarkan secara tidak langsung bahwa ada dosa-dosa yang dapat diampuni setelah kehidupan di dunia ini, (lih. Mat 12:32) dan ini mengisyaratkan adanya tempat/ keadaan yang bukan Surga -karena di Surga tidak ada dosa; dan bukan pula neraka -karena di neraka sudah tidak ada lagi pengampunan dosa. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diselamatkan, “tetapi seolah melalui api” (1 Kor 3:15). Para Bapa Gereja, termasuk St. Agustinus (dalam Enchiridion of Faith, Hope and Love dan City of God), merumuskannya dalam ajaran akan adanya pemurnian jiwa setelah kematian.
Selain itu, gereja katolik memperingati hari arwah setelah hari tertentu orang meninggal yaitu hari ke – 3, 7, 40, 50, 100, 1 tahun, 2 tahun, hari ke-1000. Bukan tanpa alasan bahwa sejumlah hari tersebut dipilih untuk memperingati/mendoakan arwah. Seperti dikatakan bahwa doa-doa ini juga diharapkan menjadi ungkapan akan iman dan harapan akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal.

>> hari ke – 3 dipilih karena dasar bahwa setelah hari ke-3, Yesus dibangkitkan dari antara orang mati. Pada peringatan ini pula, kita berharap agar saudara kita mengalami kebangkitan bersama Tuhan.
>> hari ke – 7 dipilih karena setelah 6 hari masa penciptaan (lihat kitab Kejadian), pada hari ke- 7 Allah berhenti dari segala pekerjaan yang telah dibuatnya dan menguduskannya. Pada peringatan ini, kita berharap agar saudara kitapun dikuduskan dan diberikan istirahat kekal dalam kerajaan Bapa.
>> hari ke – 40 dipilih berdasarkan iman bahwa 40 hari sesudah Yesus dibangkitkan, Ia diangkat ke surga. Pada peringatan hari ini, kita berharap saudara kita turut diangkat ke surga.
>> hari ke-50 dipilih karena 50 setelah Yesus dibangkitkan, Ia mengutus Roh Kudus untuk menghibur kita. Kita berharap bahwa pada saat ini kita yang ditinggalkan mendapat penghiburan dari Tuhan melalui Roh Kudus. Setelah hari ini, semua tanda perkabungan dilepaskan karena kita percaya bahwa kita mengalami penghiburan yang sejati dari Tuhan.
>> hari ke-100 , 100 dipercaya sebagai angka sempurna. Hal ini digunakan pula dapat menilai kinerja. Pada hari ke-100 kita berharap semoga saudara kita mendapat kesempurnaan di surga.
>> peringatan 1 th, 2 th dst ... saat saudara kita meninggal, kita percaya bahwa Ia mengalami “kelahiran” di surga, memulai kehidupan abadi di surga. Jadi selayaknya kelahiran kita memperingati ulang tahun, sama halnya kelahiran di surgapun kita memperingati ulang tahun kelahirannya di surga.

>> hari ke – 1000 , ketika orang Jawa menghitung hari, ketika mereka menyebutkan 1000 itu berarti sudah lama. Namun merujuk pada kitab suci, 1000 merupakan seluruh jumlah hari dimana Yesus berkarya. Ia mulai berkarya mulai dihitung ketika Yesus membaca ayat dalam Bait Suci dan mengatakan bahwa pada hari ini naas ini terpenuhi. Dan ia selesai berkarya ketika di salib dan mengatakan selesailah sudah. Beberapa ahli menghitungnya dan itu genap 1000 hari. Ini berarti bahwa saudara kita telah lama meninggal dan kita tetap berharap ia memperoleh yang ia butuhkan di surga dan kita berharap, kita yang ditinggalkan dan ia yang sudah pergi dapat saling mendoakan.

_dari berbagai sumber_

Selasa, 12 Agustus 2014

Mengapa orang katolik mendoakan orang yang sudah meninggal??

Bagi seorang kristen, kematian bukanlah semata-mata akhir hidup melainkan suatu peristiwa iman. Pada saat kematian, bersama dengan Kristus, kita beralih dari dunia yang fana ini kepada kehidupan kekal. Kita menghadap Bapa dan sesudah disucikan dari dosa, kita diterima dalam keluarga Allah yang berbahagia.
Maka sangatlah tepat untuk merayakan misa dalam rangka pemakaman orang beriman sebab dengan demikian kita mengungkapkan harapan bahwa Kristus akan merubah tubuh kita yang hina menjadi serupa dengan TubuhNya yang mulia” (FLP 3:21). Kita memohonkan kebahagiaan abadi bagi saudara kita serta ikut serta dalam duka nestapa keluarga yang berkabung, dan sekaligus juga kita memberikan kesaksian kepada yang turut hadir yang bukan kristen tentang iman kita yang penuh harapan.
Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).
Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu:
1.       yang masih mengembara di dunia
2.       yang sudah jaya di surga
3.       yang masih dimurnikan di Api Penyucian.
Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka, secara khusus dengan mengajukan intensi Misa kudus (2 Mak 12:42-46).
Adat istiadat yang terkait dengan upacara untuk orang yang sudah meninggal meliputi – memandikan jenazah, menunggu jenazah atau tirakatan, pemberkatan jenazah, perarakan ke kuburan, pemakaman dan peringatan arwah setelah hari tertentu – hendaknya diwarnai ungkapan iman akan kehidupan kekal.

Dalam liturgi untuk orang mati, gereja memberi penghormatan kepada jenazah, bukan untuk memujanya, bukan untuk menghalau roh-roh jahat ataupun menjauhkan roh orang mati jangan sampai mengganggu orang yang masih hidup; melainkan untuk melepas pergi seorang saudara/kerabat/teman yang dikasihi, saling memberi penghiburan untuk kita yang ditinggalkan, mengungkapkan persekutuan kita dengan kaum beriman yang sudah meninggal dan menyatakan kepercayaan dan harapan kita akan kebangkitan badan pada hari kiamat.

Selasa, 05 Agustus 2014

Mengapa saya pun mengenakan kerudung misa?

Mengenal kerudung misa adalah suatu perjalanan iman yang saya jalani, saya bahkan belum lama menggunakannya. Saya berharap ini dapat memotivasi Anda untuk menggunakannya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa mengawali sesuatu apalagi sesuatu yang baru bagi umat di tempat kita, tidaklah mudah.
Saya mengenal kerudung misa (mantilla) dari suatu postingan di halaman yang memposting mengenai katolik beberapa tahun lalu. Saya awalnya berpikir bahwa ini sangat mengagumkan. Saya mulai jatuh cinta pada kerudung misa ini. Dengan berjalannya waktu, saya selalu berusaha mencari tahu mengenainya tapi belum menggunakannya. Hal ini karena saya belum memilikinya, belum ada di tempat saya yang menggunakannya dan tentunya saya belum tahu di mana saya dapat memperolehnya.
Foto-foto yang diposting, tradisi gereja yang juga ikut diperkenalkan oleh halaman katolik di facebook semakin menambah pengetahuan saya sekaligus kecintaan saya pada kerudung misa ini. Beberapa peristiwa dalam hidup ini semakin membawa saya merasa ingin mendekat pada devosi ini. 2 tahun berlalu dengan “PDKT” lewat dunia online, akhirnya saya pun memperoleh kerudung misa pertama saya melalui berkat yang diberikan oleh teman baru di facebook yang mengirimkannya kepada saya. Sungguh luar biasa bahwa saya mencari kerudung misa ini selama 2 tahun dan akhirnya saya memperolehnya. Rasanya suatu sukacita besar menghampiri saya.
Saya memposting rasa sukacita dan terima kasih saya pada teman itu melalui sebuah status dan begitu banyak teman yang menyukainya. Dan beberapa yang mengetahui mengenai mantilla pun menanyakan hal itu. Apakah di Paroki Makale sudah menggunakan itu. Saya hanya menjawab bahwa, kalaupun belum digunakan, apakah salah jika kita memulai menggunakannya? Bukankah adalah baik jika kita memulai mencintai ekaristi dengan cara yang lebih baik pula? Dia hanya menjawab bahwa itu bagus.
Memiliki,, ya,, akhirnya saya memiliki mantilla saya sendiri. Tetapi, bukan berarti bahwa awal perjumpaan ini menjadi mulus. Saya memerlukan waktu beberapa minggu hingga akhirnya saya menggunakannya. Ada begitu banyak hal yang saya pikirkan. Saya memikirkan apa pendapat orang, apa saya harus menggunakannya, apa boleh digunakan di paroki ini, dan banyak pertanyaan yang muncul di benak saya. Tapi saya menepisnya dan berpikir bahwa ini untuk saya sendiri, untuk kecintaanku, dan dengan ini saya tidak menyakiti orang lain. Saya mulai memberanikan diri menggunakannya di misa pagi (di Paroki kami, misa pagi diadakan setiap hari Selasa, Rabu, dan Jumat yang bukan Jumat pertama dalam bulan). Misa pagi ini diikuti oleh beberapa orang. Rasanya damai menggunakannya bahwa pada saat misa, saya bertemu dengan Kristus dengan lebih sopan dan fokus.
Misa pagi demi misa berlalu dengan baik. :D hingga pada Misa Minggu pagi yang diikuti oleh banyak orang, saya ragu tetapi saya tetap menggunakannya. Rasanya tidak nyaman ketika saya melihat bahwa beberapa umat berbisik-bisik melihat saya menggunakan mantilla. Hari demi hari berlalu, rasa tidak nyaman itu perlahan mulai saya hilangkan. Ah,, bukankah ini saya lakukan karena kecintaan saya pada Kristus? Kerinduan saya akan misa yang dihadiri oleh umat dengan pakaian-pakaian yang lebih sopan, kecintaan akan tradisi gereja katolik yang begitu kaya? Bukankah saya harusnya lebih bersyukur dengan begitu bahwa mereka yang berbisik-bisik itu akan mencari tahu tentang mantilla dan akan mencintainya juga? Ya,, itulah harapan saya.
Beberapa postingan di facebook semakin menguatkan saya misalnya :
Membaca artikel-artikel itu membuat saya semakin yakin untuk menggunakan mantila selama misa. Beberapa minggu lalu, saya ditanya oleh mama saya. Katanya seseorang menanyakan kepadanya mengapa saya menggunakan mantilla. Apakah itu aliran baru? Saya menjawab mama saya bahwa itu adalah tradisi gereja katolik yang sudah lama dan beberapa gereja katolik di kota-kota besar sudah menggunakannya.
Tidak lama sesudah itu, pada misa Jumat I bulan ini, sehabis misa, tante saya pun mengajak bercerita-cerita di gereja dan menanyakan hal yang sama. Seseorang atau mungkin beberapa orang juga sempat bertanya padanya mengapa saya menggunakan mantila. Saya menjawab sesuai yang saya ketahui dan kecintaan saya pada mantilla dan beberapa alasan saya kemukakan mengapa saya menggunakan mantila.
Dua peristiwa itu membuat saya bertanya-tanya mengapa mereka tak menanyakan langsung pada saya. Tetapi saya tetap berpikir positif dan membuat saya semakin mencintai mantilla itu. Malam sesudah itu saya membuka-buka alkitab saya. Saya membaca dan menemukan 1 Kor 11: 12-16, tepatnya pada ayatnya yang ke-13. Pertimbangkan sendiri, bahkan dalam alkitab dituliskan untuk mempertimbangkan sendiri. Ya,, keputusan ini merupakan keputusan sendiri untuk menggunakannya atau tidak. Sama halnya ketika kita jatuh cinta pada seseorang, kita hanya jatuh cinta tanpa mempertimbangkan lagi hal lain. Yang penting ini baik buat kita, membuat kita bahagia, dan ini bukan hal buruk bukan? :D
Awalnya saya jatuh cinta dan jatuh cinta itu tak memerlukan alasan. Sayangnya orang-orang di sekitar kita memerlukan alasan yang logis. Dan menemukan ayat di atas saya bergembira bahwa saya menemukan alasan untuk dikemukakan kepada mereka.
Saya teringat pada banyak percakapan saya mengenai pakaian yang sopan ke gereja dengan beberapa teman OMK di paroki lain (saya dulunya ada di Paroki Kare, Makassar). Begitu banyaknya keluhan dari teman OMK pria bahwa mereka ke gereja tidak lagi murni untuk datang memuji Tuhan, terlebih karena tidak konsen lagi dengan umat yang menggunakan pakaian-pakaian terbuka, baik itu terbuka atas atau bawah. Mereka pun pria yang memiliki mata. Bukankah suatu yang tidak pantas memandangi hal seperti itu? Dan lebih tidak pantas lagi kalau kita yang membuat orang lain berlaku demikian di tempat suci. Mungkin buat kita nyaman menggunakan itu dan pantas menurut kita,, tetapi bukankah sebaiknya kita menjaga konsentrasi dan niat umat lain untuk datang memuji Tuhan?
Tak perlu menanyakan apakah saya pernah menggunakan pakaian terbuka ikut misa. Saya pun pernah menggunakannya dan seiring bertambahnya pengalaman saya, saya menyadari bahwa itu tidaklah layak apalagi dengan percakapan saya dengan teman-teman saya.
Saya tidak mempersoalkan apakah pakaian yang kita masing-masing layak atau tidak, tetapi ini hanya pertimbangan dari saya. Bukankah alkitab juga menyerahkan kepada kita untuk mempertimbangkannya sendiri?
Mengenakan mantilla bukan berarti bahwa kita lebih baik dari orang lain. Tetapi karena kita tidak suci, tidak lebih baik dari orang lain maka kita memerlukannya untuk membantu kita menjadi lebih baik. Setidaknya, dengan menggunakan mantilla ini, memotivasi kita untuk menundukkan kepala saat berdoa, menurunkan pandangan mata kita di hadapan Tuhan dalam Sakramen Mahakudus dan dengan itu kita lebih dapat menyembah Tuhan dalam tabernakel hati dan jiwa kita masing-masing.
Selain sikap pada saat misa, dengan menggunakan mantilla, kita mengevaluasi cara berpakaian kita, sikap kita, cara berpikir kita, prioritas kita dan banyak hal baik lainnya. Tetapi itu tidak membuat kita mencap diri kita lebih baik, dengan menggunakan mantilla membuat kita berusaha mendisiplinkan kedagingan kita. Biarlah Dia bertambah besar dan semakin dimuliakan dan kita semakin kecil. :D
Marilah kita saling mendoakan agar dari hari ke hari, hati kita menjadi tempat yang layak untuk didiami oleh Tuhan dan dibaharui dari harike hari. :D

Tuhan memberkati.....