#under_header{ margin:10px 0; padding:1%; width:98%; }

Attention


To view this blog,, use pgdn or direction key on your computer...

^_^

Kamis, 22 Desember 2011

dispersi padat dimenhydrinate

Dispersi padat merupakan keadaan dimana suatu bahan aktif terdispersi dalam pembawa atau matriks inert dalam keadaan padat. Dispersi padat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel untuk meningkatkan laju disolusi dan absorbsi dari obat yang sukar larut. Selain itu, terdapat keuntungan lain dari dispersi padat.
Suspensi merupakan salah satu sediaan yang berhubungan dengan sistem dispersi padat dimana suspernsi adalah sediaan cair yang mengandung satu atau lebih bahan obat dalam bentuk halus dan tidak dapat larut yang disebut fase terdispersi atau internal yang didispersikan dalam fase kontinyu atau eksternal yang biasanya berupa  cairan atau semi padat sehingga membentuk sistem heterogen dari dua fase dengan sistem termodinamika tidak stabil. Sediaan suspensi ini dibuat untuk bahan obat yang kelarutannya rendah, menutupi rasa tidak enak dari bahan obat, untuk mendapatkan absorpsi yang lebih cepat dibandingkan dengan bentuk padat, untuk memperoleh sediaan yang lebih stabil dan untuk pasien yang mengalami kesulitan untuk menelan.
Salah satu bahan aktif yang memanfaatkan dispersi padat ini adalah dimenhydrinate yang bersifat hidrofobik dengan rasa “bitter”. Dimenhydrinat merupakan derivate monoetanolamin merupakan antihistamin sedatif dengan efek sedatif dan antimuskarinik. Dimenhydrinat ini umumnya digunakan sebagai antiemetik untuk mencegah dan mengobati mabuk perjalanan (Martindale 36, 576)
Pada makalah ini akan dibahas lebih banyak lagi mengenai sistem dispersi padat mengenai dimenhydrinat.


Pada tahun 1961, Sekiguchi dan Obi pertama kali mengusulkan dispersi padat untuk meningkatkan disolusi dan absorpsi oral dari obat yang sedikit larut dalam air. Mereka mengusulkan bentuk campuran eutentik dari obat yang sedikit larut air dengan pembawa yang lebih mudah larut yang inert secara fisiologi. Pada tahun 1971, Chiou dan Riegelman mendefenisikan dispersi padat sebagai dispersi dari satu atau lebih bahan aktif dalam matriks pembawa yang inert pada keadaan padat yang disiapkan dengan metode peleburan (fusion), pelarutan dan peleburan-pelarutan. (1)
Pada masa sekarang ini, oleh Dhirendra dan kawan-kawan, dispersi padat didefinisikan sebagai gabungan dari produk padat yang mengandung sedikitnya dua komponen yang berbeda, umumnya matriks hidrofilik dan bahan obat hidrofobik. Matriks dapat berupa kristal atau amorf. Obat dapat didispersikan secara molekuler dalam partikel amorf (cluster) atau dalam partikel kristal. (1)
Leuner dan Dressman (2000) membahas beberapa pembawa yaitu polietilen glikol, polivinil pirrolidon, crospovidon, polivinil pirolidon-polivinil asetat, copolymer, hidroksi propel metal sellulosa, hidroksi propel metal sellulosa phthalate, poliakrilat dan polimetakrilat, urea, gula, poliol dan polimernya seperti mannitol, sorbitol, chitosan. Selain itu digunakan emulsifier dalam penyiapan dispersi padat seperti lauril sulfat, tween 80, surfaktan alkali dodesilsulfat, garam empedu dan derivatnya, kolesterol dan berbagai kolesterol ester, asam organik dan derivatnya, produk hidrolisis kolagen, Gelita Kolagel, pentaeritritol dan fosfolipid. (1)
Keuntungan dari dispersi padat dikemukakan oleh Vasconcelos dan kawan-kawan (2007) yaitu: (1)
·      Penyiapan dispersi padat dihasilkan dengan mengurangi ukuran partikel sehingga luas permukaannya meningkat dan meningkatkan laju disolusi. Akibatnya meningkatkan bioavailabilitas
·      Kemampuan terbasahi meningkat selama produksi dispersi padat sehingga meningkatkan kelarutan. Disini pembawa memainkan peranan untuk meningkatkan pembasahan dari partikel
·      Partikel pada dispersi padat ditemukan memiliki derajat porositas yang lebih tinggi. Peningkatan porositas dari partikel dispersi padat meningkatkan profil pelepasan obat. Peningkatan porositas juga tergantung pada sifat pembawa
·      Pada obat dispersi padat  memberikan larutan supersaturasi yang dianggap menjadi bentuk polimorfik metastabil. Akibatnya dihasilkan obat dalam bentuk amorf yang kelarutan partikelnya meningkat.
Serajuddin mengidentifikasi beberapa masalah pada pengaplikasian dari dispersi padat yang meliputi metode penyiapannya, sifat fisikokimia yang dihasilkan, pembuatannya dalam bentuk sediaan obat, perbandingan proses pengolahannya dan kestabilan fisika kimia dari obat dan pembawa. Dispersi padat tidak digunakan secara luas pada produk komersial karena masalah utama dari pembentukan kristal dari komponen dari bentuk amorf selama proses (tekanan mekanik) atau penyimpanan (suhu dan kelembaban). Kelembaban mungkin meningkatkan mobilitas dan mendorong pembentukan kristal dari obat sehingga menghambat stabilitas penyimpanan dari farmaseutikal amorf. Fase pemisahan, pembentukan kristal atau konversi dari produk ke struktur lebih stabil dari bentuk kristal metastabil selama proses penyimpanan juga dianggap hambatan utama yang komersialisasi dispersi padat karena mereka menyebabkan kelarutan menurun dan juga laju disolusi. (1)
Menurut Dhirendra dkk (2009), ada dua metode umum dari penyiapan dispersi padat yaitu metode peleburan (metode fusi) dan metode penguapan pelarut. (1)
Metode peleburan
Metode ini mencakup peleburan obat dalam pembawa diikuti dengan pendinginan dan penyerbukan dari produk yang dihasilkan. Metode ini memiliki batasan seperti penggunaan suhu tinggi dan kemungkinan degradasi obat selama peleburan, pencampuran yang tidak sempurna antara obat dan pembawa. Untuk mencegah keterbatasan ini disarankan beberapa modifikasi misalnya ekstruksi tahap panas, peleburan agglomerasi, injeksi molding, hot-spin-melting.(1)
Metode penguapan pelarut
Metode ini merupakan cara sederhana untuk menghasilkan dispersi padat dimana obat dan pembawa dilarutkan dalam pelarut yang mudah menguap. Pelarutnya kemudian diuapkan.dengan penemuan dari metode pelarutan, banyak masalah dihubungkan dengan metode peleburan dipecahkan dan metode ini merupakan metode yang dipilih untuk sistem dasar polimer. Ekologi dan selanjutnya masalah ekonomi dihubungkan dengan penggunaan polimer organik membuat metode ini menjadi suatu masalah yang lebih. Untuk alasan ini, metode ekstruksi peleburan panas menjadi pilihan pengolahan dispersi padat.(1)
Dimenhydrinate merupakan salah satu contoh bahan obat yang dibuat dalam dispersi padat karena sifatnya yang sedikit larut dalam air, mudah larut dalam alkohol dan kloroform, sebagian larut dalam eter. (2)
Kestabilan sediaan dimenhydrinate harus disimpan pada suhu kurang dari 400C, lebih dipilih antara 15-300C, pembekuan dari larutan dan injeksi harus dihindari. Selain itu dipilih pH stabil 6,4 – 7,2. (3)
Untuk membuat sediaan dengan pelepasan terkontrol, dibuat dispersi polimer dari dimenhydrinat dengan etilsellulosa. (1)
Penyalutan etilselulosa digunakan untuk memodifikasi pelepasan obat, menutupi rasa yang tidak enak dan meningkatkan kestabilan dari formula. Modifikasi pelepasan pada formulasi tablet dihasilkan dengan menggunakan etilsellulosa sebagai pembentuk matriks. Etilsellulosa dilarutkan dalam pelarut organik atau campuran pelarut dan dapat digunakan untuk menghasilkan pelapis larut air. Dispersi polimer berair dari etilsellulosa seperti Aquocoat ECD atau Surelease juga digunakan untuk menghasilkan lapisan tipis etilsellulosa tanpa menggunakan pelarut organik. Dispersi etilsellulosa berair umumnya digunakan untuk menyalut granul atau pellet. (4;263)
Selain itu, dijelaskan bahwa untuk menutupi rasa dari bahan obat maka digunakan metode dispersi padat dengan bantuan dari polimer, gula atau bahan lain yang cocok. Rasa pahit dari dimenhydrinat dapat ditutupi dengan penyiapan dispersi padat dari obat dengan polyvinyl acetat phthalate. (5)
 Polyvinil acetat phthalate merupakan polimer yang banyak digunakan sebagai penyalut enterik dimana dilarutkan dengan sistem pelarut dengan bahan lainnya. Pelarut yang biasanya digunakan berupa etanol atau methanol. (4; 562)
Dari bahan yang biasa digunakan untuk membentuk dispersi padat dari dimenhydrinat merupakan polimer dan melihat kestabilan dimenhydrinat yang tidak tahan pemanasan maka metode yang digunakan adalah metode penguapan pelarut. Dimana polimer dan dimenhydrinat dilarutkan dalam pelarut, misalnya etanol atau methanol kemudian pelarutnya diuapkan sehingga diperoleh dispersi padatnya yang lebih mudah larut dan rasa pahitnya tertutupi yang akan digunakan untuk membentuk sediaan farmasi misalnya tablet atau sediaan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar